Selasa, 08 Mei 2012

[inti-net] Pemerintah Jangan Kalah oleh Preman Berjubah

 

Refl: Bukan kalah, sebab kalau akan dikalahkan, maka rezim berkuasa kerahkan militer dan polisi bersenjata lengkap untuk menguasai situasi agar tidak hilang wewnang kekuasaan negara.

Perkembangan selama ini menunjukan bahwa rezim NKRI mempunyai kaki tangan sipil berjubah, sambil beraksi mereka suka berteriak seolah-olah mumuji-muji Allah. Di lain negeri organisasi demikian disebut "vigilante". Apapun yang "vigilantes" lakukan adalah sesuai intruksi rezim berkuasa. Perbuatan pasukan berjubah di NKRI boleh dibilang halal karena kebal hukum.

Kasus Mei 1998 di Jakarta, kasus Tasyikmalaya, Garut etc. Pengiriman Laskar Jihad yang disponsor oleh Susilo Bambang Yudhono cs ke Sulawesi Tengah dan Maluku untuk membasmi kaum Nasrani, apakah ada yang dihadapkan ke meja hijau??

http://www.tempo.co/read/news/2012/05/07/063402064
omePolitikHukum

Pegiat Islam reformis dan penulis buku asal Kanada Irshad Manji (kiri) dikawal sejumlah wartawan dan petugas Banser menuju ke kendaraan usai diskusi dan bedah buku karyanya "Allah, Liberty & Love" di Salihara, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5) malam. ANTARA/Zabur Karuru

Senin, 07 Mei 2012 | 05:35 WIB
Pemerintah Jangan Kalah oleh Preman Berjubah
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO , Jakarta: - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai, maraknya pembubaran kegiatan keagamaan oleh ormas tertentu dengan dukungan aparat kepolisian akhir-akhir ini membuktikan bahwa pemerintah melalaikan kewajiban melindungi hak dasar warga dalam beribadah dan berpendapat. "Kebebasan dalam menjalankan ibadah dan berpendapat sudah tertuang dalam konstitusi negara sehingga pemerintah punya kewajiban melindunginya," kata anggota Subkomisi Mediasi Komnas HAM, Ridha Saleh, saat dihubungi Minggu 6 Mei 2012

Ridha menilai pembiaran aksi pelarangan ibadah dengan tindak kekerasan termasuk inkonstitusional karena kebebasan itu telah diatur dengan undang-undang. "Pemerintah tidak memiliki kewenangan dalam melarang individu atau kelompok orang dalam menjalankan ibadah," katanya.

Seperti diberitakan, dalam waktu berdekatan ada sejumlah kegiatan yang dibubarkan paksa oleh ormas tertentu bersama polisi. Jumat malam pekan lalu, bedah buku Love, Liberty, and Allah karya Irshad Manji, yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara, dibubarkan oleh massa beratribut Front Pembela Islam, Front Komunikasi Anak Betawi, dan Forum Betawi Rempug. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto berdalih, acara diskusi dibubarkan karena tidak ada pemberitahuan kepada kepolisian.

Kemarin massa juga menyerbu Gereja Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia Bekasi dan membubarkan jemaat yang sedang beribadah. Bahkan, sejak tiga tahun lalu, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin tidak pernah bisa beribadah tenang karena terus-menerus diserbu massa.

Tokoh hak asasi manusia Salahuddin Wahid meminta polisi mengevaluasi diri atas sikap mereka membubarkan diskusi Komunitas Salihara, juga dalam kekerasan-kekerasan yang terjadi sebelumnya. "Yang pertama adalah alasan kenapa mereka membubarkan diskusi tersebut dan kenapa mereka lunak terhadap salah satu ormas," katanya saat dihubungi, Sabtu lalu.

Putri mantan presiden Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, menilai negara telah kalah menghadapi desakan "preman berjubah". "Negara jangan tunduk kepada ormas. Negara tidak boleh kalah oleh preman berjubah. Boleh tidak setuju. Tapi, begitu menggunakan kekerasan, mereka harus ditindak," katanya.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) menilai maraknya kekerasan dan penyerangan terhadap jemaat gereja disebabkan oleh kelemahan polisi. "Titik lemah peristiwa ini adalah polisi," kata Koordinator Eksekutif Kontras Haris Azhar.

Sementara itu, anggota Komisi Agama, Mahrus Munir, meminta waktu untuk mengambil keputusan terkait dengan maraknya kekerasan berlatar belakang agama. "Kami belum tahu detail perkara ini. Setelah reses, jelas kami akan lihat dan pikirkan kasus ini," katanya,
Pembatasan kebebasan beragama, menurut Mahrus, tidak boleh lagi terjadi di antara masyarakat karena sudah ada dasar hukum yang mengaturnya. Komisi Agama juga terus mendorong semua pihak, khususnya golongan mayoritas, untuk tetap menghormati hak dan keputusan hukum yang sudah ditetapkan.

FRANSISCO ROSARIANS | IANANDA BADUDU | STMAN MP | DIMAS SIREGAR | RAHMA TW

Berita Terkait
a.. Anggota FPI Dicelurit, Polisi Periksa Dua Saksi
b.. Tawuran di Bogor, Anggota FPI Tewas Dicelurit
c.. Diskusi Irshad Manji: Kebebasan Beragama Suburkan Toleransi
d.. Yenny Soal Diskusi Salihara: Negara Kok Kalah dengan Ormas
e.. Penerbit: Buku Irshad Manji Ditolak Toko Buku

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com


*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
.

__,_._,___

ads

Ditulis Oleh : Gadget News and Reviews Hari: 13.43 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar